Fraithzone Sayembara Awal Tahun (F-SAT)

Sekedar ikut-ikutan tetangga sebelah... gw bakal ngasih lo beberapa pertanyaan trus cara jawabnya, lo tinggal komen di bawah ini aja... Jawaban bebas... asal tidak mengandung beberapa species binatang yang dilindungi en berbau reproduksi... Oke gak tuh... Gw pengen lo jawab tiga pertanyaan gw aja...
  1. Apa sih yang kamu ketahui tentang dunia marching band??? Jelaskan dengan singkat en detail??? (poin 20)
  2. Makna apa yang bisa kamu cerna setelah membaca puisi gw : (poin 30)

    Apalah yang kan ku katakan pada hujan..
    Apalah yang kan ku sampaikan pada ilalang
    pada sungai, pada ladang, dan pada lesung yang mengalun merdu...
    Aku malu menahan dunia..
    Aku bergeming ditatap matahari...
    Aku ini sendiri..
    Sendiri tak ada siapa pun menemani..
    Sendiri tak satu pun mau membagi...
    Hanya kenangan akan memori kesendirian yang ada membekas...
    Luka lama dan sejuta ironi kehidupan ini...
    Huh... Aku kembali merenung..
    Menikmati sejuta kesendirian...
    Apa ada yang peduli??

  3. Apa sih bagusnya blog ini (http://fraithzone.blogspot.com)?? Jelaskan sedetail-detailnya!! (poin 40)
Jadi, total poin keseluruhan ada 90 poin... jawab aja sebisanya... SATU ORANG dengan jawaban terbaik akan mendapatkan hadiah yang nggak bakal ada di tempat lain.. bahkan di seluruh dunia.. Tertarik???

Format jawaban :
Nama, Instanti/Universitas/SMA... (boleh disertai alamat blog ato email)
Jawaban :
1) _________
2) _________
3) _________
Gitu doang... ayo... buruan ikutan karena sampai kuotanya masih ada, sayembara ini tidak akan ditutup... Catetan : Hadiah yang ditawarkan bersifat PASTI... Buruaaaaannnnnn!!!!!!

Komentar

Anonim mengatakan…
1) waktu aku sddulu aku pegang senar dan tenor, nah lo..
lagunya diobok2nya joshua, maju tak gentar, trus lali le..
ada triangel, kalo cewek, ada pianika, sama yang suaranya ting2 itu(opo jenenge), konser di among rogo, saiki wis rubuh!
dulu gabung ekstranya sama lempuyangwangi 2 dan 3, jadi inget masa lalu, (kowe marai aku pengen neng sd iki)
2.aku peduli kok karo kowe,karena kowe juga peduli pada diriku terutama waktu dulu , menyelamatkanku berkali2(mbuh peng piro) untuk pulang ke rumah dari sekolah(sebaiknya jangan ada yang tahu,hidden ini)
jadi, aku akan menenmani dan berbagi kepada orang yang telah menemaniku pulang dan berbagi penderitaan bergerilya untuk lolos dari markas musuh..
3. sebenarnya bagus sih enggak, cuma minimal aku bisa tahu kalo temenku ini nggak ilang kaya temen2 lama yang lain yang mboh saiki ilang ke mana, aku kehilangan sekali walau hanya satu teman..

wis..
Anonim mengatakan…
Total buat Romie = 61
Pram mengatakan…
asu test
Pram mengatakan…
1. Sebenernya aku ga tau banyak hal tentang marching band ini karena aku sendiri blom pernah ikut. Yang aku tau dalam 1 Squad MB ada Battery(kaya senar drum ya?), trus bariton, CG(pembawa bendera sambil njoget2), fild comander, horn line, melophone, pit(pit opo pitch yo?), trompet, sama tuba ya segitu aja pengetahuanku ttg MB.

2. Maknanya? Kesendirian. Menurutku puisi ini menunjukkan kondisi si penulis yang merasa lonely. Kesendirian sebenarnya bukan merupakan suatu masalah, tergantung bagaimana kita menyikapi kesendirian dan kekosongan tersebut. Just enjoy your loneliness dude...

3. Well, blog ini bagus sih, penyusunan kata2nya juga oke dan beberapa joke yang dilontarkan pada setiap tulisan(postingan) juga menarik, membuat pembaca jadi tidak bosan. Blog ini juga informatif , kadang pembaca jadi tau hal2 yang baru(misal hotel626.com hohoho). Cuman kalo bisa dikurangi gadget2nya, soalnya bikin lama kalo lagi loding page.
Anonim mengatakan…
1. marching band kui sing nyekel2 alat musik koyo perkusi, karo tiup2an, lan sing modele koyo saron ngono to? njuk ono sing gowo smacem pentungan sing nang ngarep dw mimpin anak2 buahe baris bebaris karo dolanan alat musik.

2. Sony lagi lebay...

3. blogke mnarik ko son, buktine hampir pendak dino aku mampir, btw perbanyak tips n triknya yo, mbuh tips n trik kehidupan sehari2 koyo kamasutra dsb... hohohohohhhoooo
Hafid Rahardjo mengatakan…
1. Berdasarkan kisah yang dahulu kau dan lacur sembur-semburkan ke saya, saya ingin menganalogikan Marching Band itu seperti pasukan Tentara Nasional Indonesia yang suka sekali membangga-banggakan dirinya (TNI-nya, bukan MB). Namun, tidak dapat dipungkiri, Marching Band memang mempopulerkan dirinya dari institusi militer, terutama militer Amerika Serikat yang merayakan kemenangannya secara besar-besaran saat Perang Dunia I. Kemenangan AS yang kemudian menjadi embrio AS sebagai negara superpower dalam politik Internasional. Kembali ke MB, kalau di TNI ada tiga angkatan, yakni AD, AL, dan AU, di MB juga memiliki spesialisasi keahlian, yaitu pasukan Horn yang memainkan melodi, brass yang menjaga ritme musik, dan color guard (CG) yang melengkapi estetika visual institusi yang namanya MB. Keberadan CG, juga menjadi perbedaan dengan band musik konvensional (radja, Nidji, de el el). Nek dipadakke karo TNI, horn kuwi mirip AL, lantaran nek niup instrumennya mesti nganggo abab sing berbuih-buih, alias mengandung elemen water, jadine cucuk. Kalo brass, miripe karo AD, secara suarane brass koyo suara tank-tank, atawa pasukan AD nek lagi latihan baris-berbaris, drap-drap-drap!Sing pasti pasukan AD adalah manusia yang paling dibenci karo penghuni kuburan, lantran menghentak-hentak bumi sakpenak udele, marakke mayit-mayit terganggu istirahatnya. Kalo CG mirip AU, karena hobine ngambung-ambung benda neng udara, persis koyo pesawat tempur lagi akrobat aerobatik. Sing luwih mantep meneh, CG juga melempar barang2 yang tidak berbahaya seperti senjata runcing dan senapan. Tambah mirip karo pesawat tempure Indonesia sing isone mung mabur sambil mubeng-mubeng, lantaran misile ra ono pelurune gara-gara diembargo karo negara liyo. wis nomor 1 sakmene wae.
2. Hmm, puisi ini, nek tak telaah karo perangkat kritik sastra ala Roland Barthes, H.B. Jassin, Umar Kayam, atawa GM, paling engko kuwi mumet, masalahe kudu memperbandingkan dengan bahasa yang nyastro juga. Nganggo coro ala majalah Horison wae yo!
Pada baris-baris awal, penyair menyampaikan kegundahannya dengan berusaha berbicara kepada alam, yang memang tidak dapak diajak berbincang, jadi penyair ingin menegaskan kegundahannya yang tidak mampu dipahami oleh bahasa manusia, sehingga dia merasa bercengkerama dengan alam mampu meringankan kegundahannya ("apa yang kan kukatakan pada hujan",.. "aku bergeming ditatap matahari"). Di bagian berikutnya, penyair malah mengungkapkan kesendiriannya dengan bahasa lugas ("aku ini sendiri") yang berusaha kemudian dilemahkan lewat ambivalensi tanda mengenai kenangan kesendiriannya ("hanya kenangan akan memori kesendirian yang membekas). Di sini, penyair berusaha mengaburkan tabir batas kesendirian yang dialaminya, berada dalam lapisan yang sublim, yakni bukan di masa lalu, masa mendatang, ataupun masa sekarang. Penyubliman batas masa, ditegaskan kembali ("aku kembali merenung", "menikmati sejuta kesendirian") seakan penyair tidak ingin diganggu dalam puisinya ini. Akhirnya, bisa disebutkan bahwa penyair ingin menyahut lantang, bahwa kesendirian beserta kesunyian yang dirasakannya adalah transendensi makna yang membuat dirinya merasa nyaman melaluinya. Larik akhir ("apa ada yang peduli") menegaskan bahwasanya kesunyian sublim yang dirasakan penyair menjadi bagian bawah sadar yang menghubungkan kepada naluri kesadarannya. Bisa disimpulkan, puisi ini adalah hasil perbincangan intens penyair dengan dirinya sendiri yang justru mengantarkan penyair untuk berinteraksi dengan dunia di luar dirinya.
3. Sebelum mulai membahas kebaikan blog ini, perlu saya tegaskan bahwa saya tidak mudah memuji sesuatu, apapun itu. Jika ada sesuatu hal yang kemudian saya lebih-lebihkan sampai keterlaluan, berarti ada yang salah dengan neuron otak saya, jadi mohon diingatkan kalau anda menemukan fenomena tersebut terjadi pada saya.Dalam kajian posmodernisme yang sedang saya minati dengan intens, blog adalah salah satu contoh kehidupan manusia temporer yang menarik untuk dibahas. Kemunculan blog, menurut saya adalah simbol perlawanan manusia modern yang merasa semakin kehilangan ruang untuk berbicara dalam era modernisme. Alasannya, coba anda hitung berapa kali anda bisa berbicara sekehendak hati anda dihadapan banyak orang? Saat ini, ruang-ruang yang diciptakan oleh kehidupan temporer telah menghabisi (atau setidaknya menyumbat) kegunaan mulut yang sejatinya diberikan kepada Allah SWT untuk berbincang dengan keadaan di luar diri kita. Kita setiap hari diserang jutaan informasi yang tanpa diundang memenuhi ruang hidup kita. Surat Kabar, majalah, televisi terus menerus membanjiri kehidupan kita tanpa henti. Apa efeknya? Yang boleh dan diijinkan berbicara ya hanya media-media tersebut! Kita sebagai konsumer ataupun objek dipaksa untuk mendengarkan terus-menerus tanpa mendapat kesempatan berbicara. Seperti kasus Agresi Israel yang menghujani ruang keluarga, bahkan kamar tidur dengan kebiadaban tanpa henti, apakah kamu membutuhkan itu semua Son?Bukannya kita butuh belajar Fis-Mat, Perbandingan Politik, Posmodernisme, cara memancing, jalan-jalah ke museum, cewek kosan sebelah yang manis, warung makan di deresan yang gorengannya harganya 300 rupiah sebiji, pit-pitan hari Sabtu ke Sambisari, teman yang punya motor, laptop, dan kamera digital baru?Semua hal yang saya sebutkan diatas punya makna bagi kita yang hidup dalam dunia nyata, bukannya malah mengawang-awang dengan melempari Kedubes AS dengan sepatu bekas yang harusnya bisa disumbangkan. Istilah teknisnya itu "hiperrealitas", yakni keadaan runtuhnya makna lantaran terlalu banyaknya rekayasa terhadap citraan, tanda dan simbol yang kita lihat sehari-hari melalui ruang-ruang imajiner yang berusaha menguasai kita untuk tunduk kepadanya. Blog "fraithzone" berusaha menghancurkan kecenderungan untuk membicarakan yang fana dalam ruang imajiner, atawa gampangnya tidak ngomongin masalah komputer di Internet. Untuk apa membicangkan registry hidden, software-software terbaru di sebuah blog yang laiknya menjadi corong pribadi pemiliknya untuk bersuara. Keterikatan blog ini pada realitas (bukannya hiperrealitas) adalah sumbangsih besar bagi kemanusiaan, terutama bagi Prodi Geofis UGM pada khususnya, lantaran banyak mahasiswa yang merasa terbantu begitu membaca blognya sony. Gaya berbicara, masalah yang diutarakan oleh si pemilik blog, semuanya sah-sah saja, lantaran sudah seharusnya kita berbicara bukan?Untuk apa terus berdiam diri dihegemon oleh televisi dan koran yang memaksakan membentuk kehidupan kita?ada diktum menarik, yakni "saat ini, bukan masyarakat yang membentuk televisi, tetapi televisilah yang membentuk masyarakat". Tahapan kehidupan yang sampai pada level ini, menurut beberapa ahli adalah tahapan lanjut dari kapitalisme, yakni kehidupan yang sarat dengan tanda (merek HP, sepatu, merek baju, jumper, celana, dsb.), percepatan (lagu-lagu yang terus berganti setiap hari, berita-berita negatif yang silih berganti), kebutuhan akan kebaruan, multiplisitas, diferensiasi, dan komodifikasi semua hal dalam kehidupan (Idola Cilik, Insert, sms primbon, Termehek-mehek, ringtone religius, acara eksploitasi air mata, Hari Yang Aneh, Julia Perez, dsb.) menjadikan hidup kita seolah-olah selalu dikejar-kejar oleh kekurangan terus-menerus. Kita merasa kekurangan, bukan karena kita membutuhkan komoditas, tetapi memang kita dibentuk dan dipaksakan untuk terus memproduksi rasa kekurangan dalam hidup! Karena itu, untuk mencegah hidup menjadi serba riuh-rendah, penuh keributan tanpa esensi, menuliskan pengalaman sehari-hari, cerita-cerita lucu, aneh, ataupun yang memalukan sekalipun adalah usaha untuk menjadikan hidup kita lebih bermakna. Kita hidup hanya sekali, dan kecintaan kepada daya hidup dapat ditumbuhkan melalui pencintaan kepada proses, yang akhirnya membuat hidup kita akan lebih bermakna. Blog ini adalah salah satu contoh untuk mencintai daya hidup.
Pram mengatakan…
wah digawe posting sisan kui fid...dowo bgt...

wkwkkwkw jawabane wakida nomer 2 apik... "sony lagi lebay"
Anonim mengatakan…
@ Hafid :

Udah bagus, tapi Horn ama Brass itu sama, mungkin maksud saudara Hafid di sini adalah Percussion...