Berdamai dengan Takdir: Proses Kreatif



Sebenarnya gue udah bahas ini di Youtube gue. Mungkin sebaiknya ditonton dulu karena gue mungkin males mengulang. Walau sebenernya gue lupa gue ngomong apa aja di video itu. 

Link (gue nggak tau kenapa ini gak bisa diembed as video di sini.... gak paham deh...)

https://www.youtube.com/watch?v=8fctDJGuaZk

Sebenernya buku ini adalah bagian dari sebuah trilogi perjalanan jiwa atau yang lebih sering gue sebut dengan istilah trilogi self-love, seni mencintai dan berdamai dengan diri sendiri. Secara berurutan serinya adalah:

  • ·         30 Days Pusruit of Happiness
  • ·         Penuh
  • ·         Berdamai dengan Takdir

 

Dalam seri 30 Days Pursuit of Happiness gue mengajak pembaca untuk menyadari dahulu bagaimana masing-masing kit aitu. Realitas yang selama ini ditinggalkan adalah “diri sendiri”. Selama ini kita tentunya sibuk sekali mengejar yang namanya materi dan hal itu tidak akan pernah ada habisnya. Seri ini adalah seri mindfulness, yakni aware dengan diri sendiri. Itu dulu deh step pertama yang bisa dilakukan dalam 30 hari, jika pembaca ingin mengamalkannya demikian. Hidup ini tentu saja berproses, dan buku ini hanyalah momentumnya. Buku ini hanyalah jembatannya. Karena membiasakan diri untuk sadar dengan diri sendiri itu tidak semua orang bisa melakukannya. Apalagi di dunia yang setiap hari bergulir begitu cepat. Coba lihat orang Korea, mereka bermobilisasi sangat cepat, waktu dan segalanya menjadi sangat cepat sehingga banyak sekali orang yang stress dan depresi, bahkan banyak juga yang bunuh diri. Karena apa? Mereka ingin mengejar sesuatu yang diciptakan di luar mereka dan lingkungan mereka pun menuntut hal tersebut.

“Itu tetanggamu kaya raya lho, kamu kapan?”

Bagi orang Korea mungkin itu pertanyaan sindiran yang bisa jadi menjadi penyebab mereka membunuh diri mereka karena tidak bisa berguna dalam hidup ini. Orang Indonesia belum mempunyai pikiran seperti ini, namun di kota-kota besar, precursor tentang hal ini segoianya perlu diperhatikan.

 

**

Selanjutnya, setelah kita wawas, pembaca dapat melanjutkan untuk membaca Penuh, yang isinya adalah siraman batin untuk jiwa yang lebih baik. Seperti tanaman yang butuh air, tujuan tulisan Penuh ini adalah untuk menanamkan konsep dan persepsi baru kepada kesadaran si pembaca agar bisa lebih bertumbuh dengan lebih baik lagi—tentunya dengan modal kewawasan yang sudah dipupuk lebih awal tadi ya…

Dalam Penuh, kita akan belajar untuk menerima segala hal yang biasanya tidak mau kita terima. Seperti salah satunya adalah emosi-emosi negatif kita yang datang dan menghilang dalam waktu sepersekian detik.

 

**

Nah, setelah batin kita Penuh, kiranya perlu ditambahkan dengan proses acceptance yang lebih gue khususkan lagi di buku Berdamai dengan Takdir. Sembilan puluh delapan persen orang mungkin akan bereaksi ketika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka. Kita tidak pernah dengan gampang menerima apa yang terjadi pada kita dengan kepasrahan total. Kita terlalu berhitung dengan segala yang terjadi, maka celakalah orang yang menghitung-hitung setiap hal yang terjadi pada hidup mereka. Kita berada dalam umur-umur yang legal untuk overthinking dan semuanya dipikirin. Dari mulai hal yang nggak penting sampai ke sebuah detil yang absurd sekali pun, tetap dipikirkan.

Pembahasan di buku ini akan lebih tinggi dan lebih dalam lagi dibandingkan dengan dua buku sebelumnya. Dan tidak semua orang tertarik dengan perjalanan jiwa ini. Maka dari itu, perjalanan ini hanyalah untuk mereka yang siap. Siap dengan misi jiwa yang lebih tinggi dan tantangan yang lebih menantang lainnya. Memang, menempuh jalan jiwa ini berat dan tidak semua orang bertahan di jalan ini. Namun, hanya dengan ini kita menyelasikan misi kita.

 

**

Jika kita menginginkan sesuatu, maka kondisi yang kita alami saat ini cenderung bernegasi dengan apa yang kita inginkan.

Misal:

Jika kita ingin kaya raya, maka sejatinya kondisi sekarang kita masih miskin baik secara fisik maupun nonfisik.

Maka dari itu gue mempertanyakan kembali apa sih tujuan hidup ini? Apakah dengan menjadi kaya, misi jiwa gue akan selesai? Apakah dengan menjadi presiden dan pemegang jabatan-jabatan tinggi di pemerintahan maka misi jiwa gue akan selesai? Kita ingin bahagia dunia akhirat, maka? Kita ingin masuk surga, maka?

Ingin ini dan itu adalah serpihan ego yang harus direduksi agar tidak membuat bias dalam keputusan-keputusan kita.

 

**

Maka,

Buku ini sampai di tanganmu bukan sebuah kebetulan, karena di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Segala momentum sudah disiapkan dan dirancang sebegitu cantiknya oleh sang arsitek: dirimu sendiri.

 

:D

 

Carilah, maka kamu akan menemukan!

 


Komentar