[PERS #39] Indah Indriyati


Oke, sudah berapa tahun coba ini blog bergulir dengan konten personifikologi yang nggak pernah rampung-rampung. Coba deh, jeda antara postingan ini sama postingannya Ali yang sebelumnya aja bisa jadi udah kayak satu tahun cahaya. Yah, kesibukan tahun belakangan ini menjadikan gw sangat tidak produktif menulis blog. Nggak seperti dulu yang gw bisa mencurahkan segalanya gegara ada SIC, sekarang mau nulis di mana? Kudu menyempatkan bener-bener buka laptop dan mengingat-ingat hal-hal yang sudah lama terjadi.

Yak, sudah 4625 hari tepatnya dari pertama gw masuk geofisika UGM sampai akhirnya menuliskan memoir ini. Bilangan ini tepatnya sama dengan satu dekade lebih dua tahun lebih lagi 244 hari. Yah, let’s say, hampir tiga belas tahun. Bagusnya sih beberapa di antara temen-temen gw masih menyempatkan untuk sekadar bertemu dan yang terakhir, main zoom.






Tentu saja, sosok Indah yang paling gw inget selain karena kos-nya di masjid deket Ngudi Rejeki itu, doi sering sih ke Jogja, ya walaupun untuk sekadar mengurangi penat atau sekadar ingin menyambangi lagi tempat-tempat yang menurutnya keren untuk kembali disambangi.



Gw lupa banget kok bisa kita ke Solaria sama Siwi ya? Ada gerangan apa kah?

Pendadaran

Indah adalah pribadi yang gemar membaca. Kayaknya gw mendapatkan cambukan untuk menjadi orang yang sama-sama gemar membaca dari dia yang suatu hari menyarankan gw untuk, “Son, baca aja itu bukunya Dee Lestari yang Supernova. Kayaknya kamu bakal suka deh..”. Untuk kalimat yang gw masih inget, hal ini menjadikan gw di kemudian hari menjadi kolektor semua buku karya Dee Lestari. Dan, tentu saja, buku ini menjadi pondasi yang paling keren untuk perjalanan gw selanjutnya. Dia juga suka pinjem koleksi buku gw yang sering banget bersebar di ruang kelas geofisika. Ada yang hilang oleh sebagian orang, ada juga yang dibawa mudik, ada juga yang sampai aku beli lagi.




Indah ini paling sering ditemui kalau di kelas itu sama Nani. Atau mungkin sama Prina juga pernah sih. Dan mereka juga mempunyai hobi yang sama, yakni main ke SIC. Hahaha.. Beda dengan yang sebelum-sebelumnya, kayaknya Indah kayak nggak punya flaws ya karena memang anaknya memang baik-baik en nggak neko-neko..




Seperti yang udah gw bilang sebelumnya, cewek pencinta pintu jadul yang warnanya hijau ini biasanya kalau ke Jogja akan selalu bilang dan minta ditemenin entah ke mana dia mau menghabiskan waktunya. Pernah suatu saat dia mau ke Ullen Sentalu, ya gaskeun aja sampai ke pengalaman paling absurd adalah makan hati ayam di Zango jaman dulu masih ada restonya. Hahahaha… Tapi yang paling bahaya adalah Ketika kita ke bukit Paralayang di Parangndog dan karena motor gw nggak ada remnya.. Itu bener-bener memacu adrenalin sekali..


Kalau kelompoknya berdasar NIM ya pasti Indah bakalan ketemu sama Siwi...

Kalau nggak salah doski ini sekarang masih berjibaku di Pertamina di daerah asalnya sana, Palembang atau Prabumulih. Ya, semangat aja. Semoga tetap masih suka membaca biar otaknya tetap subversif ya ndaahhh.... Hahahah…

Ini di mana ya, kok lupa.. kayaknya di Candi Abang deh..



***

Komentar

nahaz mengatakan…
Indah ini satu-satunya temen seangkatan geofisika yang wisudanya bareng aku.
Gama Perkasa mengatakan…
lanjut son.