Menyongsong Rusak Saja Buku Ini JIlid 2

 Dilansir dari laman artikel anakhebatindonesia.com:

Buku ini memang unik bin eksentrik. Dari halaman pertamanya saja kita sudah disodori kotak-kotak posesif tempat pemiliknya bisa menulis nama di dalamnya. Berikutnya, kita akan mendapati instruksi-instruksi aneh, di antaranya adalah meludahi halaman buku dengan berbagai jenis minuman, menyeret buku sambil berjalan, menginjak-injak buku dengan cap sepatu kita, sampai menjatuhkan buku dari ketinggian tertentu. Ekstrem, ya?

Tapi sebetulnya, apa sih tujuannya merusak buku ini? Apakah kamu pernah membaca tentang topik depresi atau penyakit mental? Hampir di semua artikel atau bacaan tentang keduanya, kita diberikan cara menangani masalah depresi dan penyakit mental dalam tahap yang ringan. Salah satu dari cara yang ditawarkan adalah menulis atau meluapkan unek-unek dalam selembar kertas. Nah, Rusak Saja Buku Ini berusaha memfasilitasi hal itu. Tentu saja dengan instruksi-instruksi yang menarik lagi menantang, supaya endingnya kamu merasa puas, lega, bin plong.

Hebatnya, misi kamu tidak cuma merusak buku ini, lho. Di halaman penutup, kamu akan diberi dua pilihan: mengubur buku ini dan menjadikannya kapsul waktu, atau mengirimkannya pada dirimu sendiri. Tapi ingat, dua pilihan ini hanya boleh dilakukan ketika kamu sudah menyelesaikan semua instruksinya. Tujuannya satu, supaya suatu saat nanti kamu punya kenangan yang bisa disentuh—bahwa kamu pernah melakukan hal-hal gokil di masa muda demi mengalahkan beban pikiranmu. Psst, kamu juga bisa menjadikan buku ini suvenir untuk dipajang di kotak kaca, lho. (Sumber: sini)

Tentunya tahu dong buku yang sedang kita bicarakan di atas? Iya, buku Rusak Saja Buku Ini atau yang lebih kondang dengan singkatan RSBI (bukan rintisan sekolah bertaraf internasional ya my love~) ini kemaren-kemaren sempat ngetrend bukan buatan. 

Setelah ada satu akun Tiktok yang nggak sengaja mungkin mempopulerkan video ini dalam kegabutannya semasa pandemi, tiba-tiba, videonya ditonton oleh jutaan orang. Seperti mendapat durian runtuh, itu kayaknya peribahasa yang paling cocok dengan keadaan ini. Sebenernya buku yang aku tulis di tahun 2019 itu sebenernya tapi ya di toko buku ya mungkin ke-display ketutup sama buku orang lain which is so many. 

Aku pernah bikin video awalan pas lagi hypenya di sini:


Dalam perjalanannya ya banyak banget mereka yang merasa terbantu dengan adanya buku ini. Banyak yang merasa bahwa emosinya bisa lebih teratur. Banyak juga yang merasa tidak terbantu, ya nggak masalah, kan setidaknya sudah mencoba ya kan? 

Then, bulan November ini, bakalan ada versi keduanya. Unch. Udah kayak sekuel pelem-pelem Marvel yekan? Merusak buku jilid 2 biar kayak yang pada demo di Monas. Lah bedanya apa? Pasti banyak yang nanya. Ya, setidaknya sih mirip, dengan beberapa aktivitas lain yang tentunya mengasah indra lain yang bisa jadi leih menarik dan menyenangkan demi satu hal: melampiaskan emosimu. Yaa, kalau jilid satu kamu belum bisa menghancurkan emosimu, ya jilid dualah jawabannya. 

Ya, sedikit curcol aja ya.. 

Bahwa, buku yang pertama itu banyak banget yang ngebajak. Coab aja lihat di Shopee atau marketplace lain gitu. Mereka biasanya masang harga yang cuman 12.000 aja. Padahal harga aslinya 50.000 ya gaes. 







Itu sih cara-cara membezakan buku yang asli dengan buku bajakan.

Tentunya bakal ada usaha dari penerbit untuk membuat buku yang kedua ini lebih agak sulit untuk dibajak. Tapi ya kembali lagi ke pembaca. Mayoritas pembaca belum mengetahui dan tidak mau mengetahui apa yang terjadi jika mereka membeli buku bajakan. Efek kupu-kupu apa yang terjadi kepada penulis, penerbit, distributor, toko buku, pembaca lain dan semua pihak. Memang sih, tujuan buku ini untuk dirusak, namun biar berkah ya kalau bisa ya beli yang asli. 

Ada kok pembeli yang beli buku bajakan dan kemudian dia sadar kalau buku yang dibelinya itu ternyata bajakan. Terus, dia kemudian menghubungiku dan curcol panjang lebar. Trus dia bermaksud untuk membeli buku yang asli langsung di toko buku yang resmi. Well, sebenernya masyarakat kita itu educated kok, kecuali yang blum ya. Akupun nggak perlu marah-marah ungkat sana-ungkat sini karena ya sesuatu itu terjadi karena sebuah hal. 

Yang sudah pasti mengharukan adalah ketika ada orang yang memberi tanda ke akun instagramku.




Hasil karya orang-orang

Trus, kemaren aku juga menyempatkan diri melakukan bedah buku dengan Universitas Katholik di daerah Semarang gitu. Lumayan banyak sih pesertanya dan kita lebih banyak memperbincangkan tentang psikologi dan mengapa mereka harus mempunyai buku ini. Link materi bedah buku bisa dilihat di sini.

So, yang belum punya buku yang pertama dan kedua. Bisa hubungi Whatsapp yang ada di link ini. Maaf, untuk Shopee-nya belum bisa diaktifkan karena aku malas sekali mengatur-atur sistemnya. 

Komentar