Mengunjungi Candi Gunung Wukir

Waw.. 

Entah kapan terakhir kali gue posting postingan di sini. Sekadar menulis kembali biar nggak cuman sibuk nulis buku sama nulis Quora aja. Duile banget deh gue. Bukan gue men-diss blogger lain sih. Cuman memang tuntutan en alasan mengapa gue jarang pake banget nulis blog adalah karena 

  1. Gue sibuk nulis buku
  2. Gue nggak punya leptop, jadi nulis ginian kalau kaga di warnet ya di hape. Sedih kan?

Anyway, bukan juga gue nggak mau pengen punya leptop. Cuman gegara beberapa insiden dengan leptop di awal tahun 2020 kemaren, gue jadi males berurusan dengan perleptopan lagi sekarang. Lagian laptop juga paling cuman buat nulis doang sih kalau gue. Bukan yang gue butuh-butuh banget. Ya nggak tahu nanti beberapa tahun ke depan sih. At least, sekarang sih belum butuh. 

Well, di hari yang selo kemaren, karena libur hari Pancasila digeser ke hari Sabtu, akhirnya gue menghubungi temen gue yang juga mantan karyawan di tempat gue bekerja sekarang. Dia sekarang pindah menetap di sebuah Rusunawa di Muntilan. Sebenernya dari dulu gue udah disuruh mampir ke rumahnya, tapi karena dulu dia menetap di Temanggung, maka jarak adalah faktor yang membuat daqu malas sekali beranjangsana ke negeri para Dewa itu hahaha. Thus, karena sekarang doski udah pindahan, maka apa boleh buat, kali ini gue kudu mengunjunginya. Ah, tapi nggak seru kalau cuman pergi ke tempat dia trus pulang gitu aja. So, gue membuka kembali plan lama yang melindap di otak gue. Gue akan mengunjungi Candi Gunung Wukir ah sekalian.

And, here we are

Gue meniatkan untuk mengunjungi CGW (biar gampang nyingkatnya) pada tanggal 5 Juni 2021. Karena sebelumnya udah janjian sama Simbok en Yovi (temen gue di kerjaan gue sekarang), yakni mau makan Soto Pak Genit di bilangan Timoho sana, yawes. Jam 7.15 gue memacu motor gue ke tempat jualan soto. Lucu juga sih soto ini karena tempatnya itu ada di pinggir rel kereta api. Jadi, kalau gue anak kecil pasti antusias banget apalagi kalau ada kereta api yang lewat beneran. Ah, jadi rindu jaman gue lihat kereta api sambil makan sate di bawah jembatan Lempuyangan jaman kecil dulu. Hmm… kayaknya hampir semua anak kecil waktu itu punya kebiasaan yang sama deh. Ah kangen.

Oke, kami makan soto dengan obrolan pagi yang ihhiiiyyy sampai jam 8.30 an. Habis itu, gue langsung ngacir ke Muntilan. Tidak lupa gue mampir dulu dong di Indo**ret yang paling deket ke arah lokasi CGW. Ternyata, jaraknya emang deket. Tau-tau aja udah nyampe pertigaan di jalan Jogja-Magelang yang nyabang ke arah Ngluwar yang bisa tembus ke Bligo.

Yaudah, belok kiri langsung ngikutin arah yang tercantum di Googlemaps. Dan, kalau mata kamu awas. Nanti setelah beberapa ratus meter dari pertigaan itu, kamu akan ketemu dengan plang kecil yang tulisannya Candi Gunung Wukir. En voila, belok kanan masuk ke perkampungan dengan latar belakang sebuah perbukitan intrusi yang nampak megah di belakang. Hahaha.. Udah lama nggak pengamatan geomorfologi bikin gue agak bersemangat untuk petualangan sendirian gue hari ini. 

Ngikutin jalan yang udah dikonblok mulus, akhirnya nanti ada plang lagi yang mengharuskan kita belok kanan lagi sampe di sebuah halaman rumah warga yang nampaknya digunakan sebagai tempat parkir. Kebetulan juga ada bapak-bapak yang menyambut (secara tidak sengaja). Sekalian gue tanya en belio membenarkan kalau motornya harus diparkir di sini. 

Nah, selepas itu, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Sempet salah arah beberapa meter, sebelum akhirnya bener. Pokoknya dari plang terakhir dari parkiran, itu lurus aja sampai ada jalan kecil ke arah hutan di belakang rumah warga. Di titik ini kebetulan ada ibu-ibu, maka gue nanyain dong buat memastikan. Dan memang benar, arahnya ke bawah.

Oke deh.. Gue melanjutkan perjalanan ke bawah. Ternyata jalannya udah di dibikin agak bagus sih, walau memang pasih agak licin. Sampe kamu melewati sungai. Untungnya sungai ini juga udah dibikinkan jembatan penghubung yang bagus. Sungai stadia muda gumam gue, alirannya masih deras. Dulu berarti sewaktu CGW dibangun, mereka harus melewati/menyebrangi sungai ini dulu. Tentu saja kalau musim hujan akan susah walau cuman beberapa meter sih (mungkin ada kali ya kalau 5 meteran). Sesudah menyebrangi sungai, vegetasinya mulai rimbun. Tanahnya mulai berubah menjadi lapukan batuan beku yang liat dan keras tapi licin at the same time. Pelan-pelan gue naik. Kelandaian di sini masih belum terlalu curam. 

Jalan menuju CGW

(wiihhh… entah kenapa gue kangen nulis begini ya… berasa laporan fieldtrip)

Nah, setelah itu vegetasi berubah menjadi hutan bambu yang daunnya kering-kering. Banyak suara hewan-hewan yang gue duga sih kadal. Bukan kadal gurun, tapi kadal hutan. Hihihi. Abis itu lewat saluran irigasi, baru masuk ke pelataran tanjakan utama. Sebenernya tanjakan ini cuman paling 100 meter aja sih, cuman naiknya agak tinggi dengan sudut inklinasi rata-rata di awal sampai 60 derajat, lama-lama jadi 45, setelah akar pohon yang nampak kayak gerbang, kemiringan jadi 30 derajat, en 10-15 meter dari gerbang CGW, tanjakan menjadi landai.

Tanjakan di awal pendakian

Di tanjakan itu sebenernya keteguhan hati gue diuji. Walaupun cuman 100 meter tapi karena gue punya riwayat yang tidak menyenangkan dengan yang namanya pendakian. Biasanya paha gue itu gampang banget kram (cramp) gitu karena overkontraksi otot. Jadi, cuman naik tangga beberapa lantai aja gue udah kram. Sudah kram, adrenalin gue diproduksi banyak banget, sehingga detak jantung jadi gampang banget berdetak dengan keras. 

Beberapa kali gue istirahat menenangkan detak jantung gue, tapi uniknya nggak ada rasa kram malah berganti dengan rasa mumet. Gue napas dalam masuk dan keluar untuk menstabilkan kadar oksigen dalam darah sambil mengafirmasi bahwa gue bisa. Karena sejujurnya di tengah jalan rasanya udah mau pulang. Kenapa begitu? Karena nggak tahu jarak lokasi CGW-nya. Gue pikir setelah sampai di atas bukit masih nanjak lagi dan panjang gitu, makanya nyali ini agak cuit di tengah-tengah perjalanan. 

Sampai di akar pohon yang membentuk semacam portal gaib ala-ala. Di dalam keheningan total itu, gue cuman bisa mendengar napas gue sendiri yang terengah-engah. Suara-suara hewan-hewan semakin semarak di dalam keheningan seakan-akan memberi semangat. Daqu pun melewati gerbang akar pohon itu dan jalanan agak bersahabat. Di tikungan terakhir, gue kayak udah bisa lihat titik gerbang CGW itu dan gue memompa kaki gue untuk berjalan lebih jauh. 

En voila,

Gue sampai di gerbang CGW, langsung menjatuhkan tubuh ke dudukan batu di situ. Terdapat tulisan yang membuat hati ini ingin mengumpat. “CANDI DITUTUP SAMPAI WAKTU YANG TIDAK DITENTUKAN”. 


Gerbang Candi Gunung Wukir

Tapi, rasa mengumpat gue tidak signifikan karena gue lebih memilih untuk mengatur napas sembari minum beberapa perbekalan yang gue bawa dari bawah tadi. Gue membawa kopi dalam botol untuk ledakan glukosa, biar energi dapat digantikan lebih cepat. Kemudian, beberapa menit duduk di gerbang candi, ada penjaga candi yang sedang memotong rumput dengan mesin pemotong rumput mendekat dan berkata, “Dari mana sampeyan?”, “Masuk aja..”. Mungkin karena gue menjawab dari Jogja dan itu jauh, maka gue dibolehkan masuk. Sambil masuk, sambil mengisi buku tamu dan membaca tentang informasi yang ada di CGW ini. 

Sudah barang umum, bahwa di lingkungan candi ini, ditemukan Prasasti Canggal atau prasasti dengan angka tahun tertua di Jawa. Menurut wikipedia, Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkala berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi. Prasasti yang ditulis pada stela batu ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya pada tahun 732 sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno. Walaupun menurut beberapa peneliti, prasasti ini semacam tidak in situ, karena bukit Gunung Wukir ini tidak sekokoh yang digambarkan oleh isi prasasti. Ya, gue juga nggak ngerti juga. 

Candi Utama

Secara arsitektur candi, sebenernya simpel aja. Cuman ada satu candi utama dengan yoni dan lingga (hilang) yang tinggal bagian dasarnya saja. Kemudian di depannya ada tiga candi perwara. Sambil mengatur napas, si bapak tadi minta ijin untuk melanjutkan pekerjaannya. Kata dia, nanti bakal ada utusan dari arkeologi untuk melakukan penelitian di sini. Maka dari itu sebenarnya si bapak sedang menunggu utusan itu. 

Gue kemudian menghabiskan sejam di situ dalam sunyi sendiri. Gue memanfaatkan kadar oksigen di hutan untuk bernapas dalam-dalam sembari memejamkan mata. Gue masuk dalam meditasi yang dalam selama setengah jam berikutnya sampai si bapak kembali menghidupkan alat pemotong rumputnya. Rasanya adem ayem plong.


Selfie ramashook.. kwkwk

Sembari menunggu jam bertemu temen di Muntilan, gue pakai beberapa menit untuk berselfie-selfie ria dulu. Sampei capek berfoto, jam 11 tepat, gue turun bukit yang so easy ini sampai di parkiran. Kenapa so easy? Ya memang karena gue lebih prefer turunan daripada tanjakan. Karena nggak ada siapa-siapa di parkiran, plus nggak ada kotak uang atau semacamnya, ya sudah gue langsung ngacir aja. 

Ya begitu deh pengalaman gue mengunjungi CGW. Kenapa gue mengunjungi CGW? Nanti pelan-pelan akan gue ceritakan. 

**

Komentar