F-SAT Winner

F-SAT Winner

Akhirnya setelah sebulan lamanya.... Inilah dia F-SAT Winner... HAFID RAHARDJO dengan skor 85.... Dengan jawaban :

Apakah yang lo ketahui tentang Marching???

Berdasarkan kisah yang dahulu kau dan lacur sembur-semburkan ke saya, saya ingin menganalogikan Marching Band itu seperti pasukan Tentara Nasional Indonesia yang suka sekali membangga-banggakan dirinya (TNI-nya, bukan MB). Namun, tidak dapat dipungkiri, Marching Band memang mempopulerkan dirinya dari institusi militer, terutama militer Amerika Serikat yang merayakan kemenangannya secara besar-besaran saat Perang Dunia I. Kemenangan AS yang kemudian menjadi embrio AS sebagai negara superpower dalam politik Internasional. Kembali ke MB, kalau di TNI ada tiga angkatan, yakni AD, AL, dan AU, di MB juga memiliki spesialisasi keahlian, yaitu pasukan Horn yang memainkan melodi, brass yang menjaga ritme musik, dan color guard (CG) yang melengkapi estetika visual institusi yang namanya MB. Keberadan CG, juga menjadi perbedaan dengan band musik konvensional (radja, Nidji, de el el). Nek dipadakke karo TNI, horn kuwi mirip AL, lantaran nek niup instrumennya mesti nganggo abab sing berbuih-buih, alias mengandung elemen water, jadine cucuk. Kalo brass, miripe karo AD, secara suarane brass koyo suara tank-tank, atawa pasukan AD nek lagi latihan baris-berbaris, drap-drap-drap!Sing pasti pasukan AD adalah manusia yang paling dibenci karo penghuni kuburan, lantran menghentak-hentak bumi sakpenak udele, marakke mayit-mayit terganggu istirahatnya. Kalo CG mirip AU, karena hobine ngambung-ambung benda neng udara, persis koyo pesawat tempur lagi akrobat aerobatik. Sing luwih mantep meneh, CG juga melempar barang2 yang tidak berbahaya seperti senjata runcing dan senapan. Tambah mirip karo pesawat tempure Indonesia sing isone mung mabur sambil mubeng-mubeng, lantaran misile ra ono pelurune gara-gara diembargo karo negara liyo. wis nomor 1 sakmene wae.

Apa sih makna puisi gw

Apalah yang kan ku katakan pada hujan..
Apalah yang kan ku sampaikan pada ilalang
pada sungai, pada ladang, dan pada lesung yang mengalun merdu...
Aku malu menahan dunia..
Aku bergeming ditatap matahari...
Aku ini sendiri..
Sendiri tak ada siapa pun menemani..
Sendiri tak satu pun mau membagi...
Hanya kenangan akan memori kesendirian yang ada membekas...
Luka lama dan sejuta ironi kehidupan ini...
Huh... Aku kembali merenung..
Menikmati sejuta kesendirian...
Apa ada yang peduli??

Hmm, puisi ini, nek tak telaah karo perangkat kritik sastra ala Roland Barthes, H.B. Jassin, Umar Kayam, atawa GM, paling engko kuwi mumet, masalahe kudu memperbandingkan dengan bahasa yang nyastro juga. Nganggo coro ala majalah Horison wae yo!
Pada baris-baris awal, penyair menyampaikan kegundahannya dengan berusaha berbicara kepada alam, yang memang tidak dapak diajak berbincang, jadi penyair ingin menegaskan kegundahannya yang tidak mampu dipahami oleh bahasa manusia, sehingga dia merasa bercengkerama dengan alam mampu meringankan kegundahannya ("apa yang kan kukatakan pada hujan",.. "aku bergeming ditatap matahari"). Di bagian berikutnya, penyair malah mengungkapkan kesendiriannya dengan bahasa lugas ("aku ini sendiri") yang berusaha kemudian dilemahkan lewat ambivalensi tanda mengenai kenangan kesendiriannya ("hanya kenangan akan memori kesendirian yang membekas). Di sini, penyair berusaha mengaburkan tabir batas kesendirian yang dialaminya, berada dalam lapisan yang sublim, yakni bukan di masa lalu, masa mendatang, ataupun masa sekarang. Penyubliman batas masa, ditegaskan kembali ("aku kembali merenung", "menikmati sejuta kesendirian") seakan penyair tidak ingin diganggu dalam puisinya ini. Akhirnya, bisa disebutkan bahwa penyair ingin menyahut lantang, bahwa kesendirian beserta kesunyian yang dirasakannya adalah transendensi makna yang membuat dirinya merasa nyaman melaluinya. Larik akhir ("apa ada yang peduli") menegaskan bahwasanya kesunyian sublim yang dirasakan penyair menjadi bagian bawah sadar yang menghubungkan kepada naluri kesadarannya. Bisa disimpulkan, puisi ini adalah hasil perbincangan intens penyair dengan dirinya sendiri yang justru mengantarkan penyair untuk berinteraksi dengan dunia di luar dirinya.

En, gimana pendapat lo tentang blog gw??

Sebelum mulai membahas kebaikan blog ini, perlu saya tegaskan bahwa saya tidak mudah memuji sesuatu, apapun itu. Jika ada sesuatu hal yang kemudian saya lebih-lebihkan sampai keterlaluan, berarti ada yang salah dengan neuron otak saya, jadi mohon diingatkan kalau anda menemukan fenomena tersebut terjadi pada saya.Dalam kajian posmodernisme yang sedang saya minati dengan intens, blog adalah salah satu contoh kehidupan manusia temporer yang menarik untuk dibahas. Kemunculan blog, menurut saya adalah simbol perlawanan manusia modern yang merasa semakin kehilangan ruang untuk berbicara dalam era modernisme. Alasannya, coba anda hitung berapa kali anda bisa berbicara sekehendak hati anda dihadapan banyak orang? Saat ini, ruang-ruang yang diciptakan oleh kehidupan temporer telah menghabisi (atau setidaknya menyumbat) kegunaan mulut yang sejatinya diberikan kepada Allah SWT untuk berbincang dengan keadaan di luar diri kita. Kita setiap hari diserang jutaan informasi yang tanpa diundang memenuhi ruang hidup kita. Surat Kabar, majalah, televisi terus menerus membanjiri kehidupan kita tanpa henti. Apa efeknya? Yang boleh dan diijinkan berbicara ya hanya media-media tersebut! Kita sebagai konsumer ataupun objek dipaksa untuk mendengarkan terus-menerus tanpa mendapat kesempatan berbicara. Seperti kasus Agresi Israel yang menghujani ruang keluarga, bahkan kamar tidur dengan kebiadaban tanpa henti, apakah kamu membutuhkan itu semua Son?Bukannya kita butuh belajar Fis-Mat, Perbandingan Politik, Posmodernisme, cara memancing, jalan-jalah ke museum, cewek kosan sebelah yang manis, warung makan di deresan yang gorengannya harganya 300 rupiah sebiji, pit-pitan hari Sabtu ke Sambisari, teman yang punya motor, laptop, dan kamera digital baru?Semua hal yang saya sebutkan diatas punya makna bagi kita yang hidup dalam dunia nyata, bukannya malah mengawang-awang dengan melempari Kedubes AS dengan sepatu bekas yang harusnya bisa disumbangkan. Istilah teknisnya itu "hiperrealitas", yakni keadaan runtuhnya makna lantaran terlalu banyaknya rekayasa terhadap citraan, tanda dan simbol yang kita lihat sehari-hari melalui ruang-ruang imajiner yang berusaha menguasai kita untuk tunduk kepadanya. Blog "fraithzone" berusaha menghancurkan kecenderungan untuk membicarakan yang fana dalam ruang imajiner, atawa gampangnya tidak ngomongin masalah komputer di Internet. Untuk apa membicangkan registry hidden, software-software terbaru di sebuah blog yang laiknya menjadi corong pribadi pemiliknya untuk bersuara. Keterikatan blog ini pada realitas (bukannya hiperrealitas) adalah sumbangsih besar bagi kemanusiaan, terutama bagi Prodi Geofis UGM pada khususnya, lantaran banyak mahasiswa yang merasa terbantu begitu membaca blognya sony. Gaya berbicara, masalah yang diutarakan oleh si pemilik blog, semuanya sah-sah saja, lantaran sudah seharusnya kita berbicara bukan?Untuk apa terus berdiam diri dihegemon oleh televisi dan koran yang memaksakan membentuk kehidupan kita?ada diktum menarik, yakni "saat ini, bukan masyarakat yang membentuk televisi, tetapi televisilah yang membentuk masyarakat". Tahapan kehidupan yang sampai pada level ini, menurut beberapa ahli adalah tahapan lanjut dari kapitalisme, yakni kehidupan yang sarat dengan tanda (merek HP, sepatu, merek baju, jumper, celana, dsb.), percepatan (lagu-lagu yang terus berganti setiap hari, berita-berita negatif yang silih berganti), kebutuhan akan kebaruan, multiplisitas, diferensiasi, dan komodifikasi semua hal dalam kehidupan (Idola Cilik, Insert, sms primbon, Termehek-mehek, ringtone religius, acara eksploitasi air mata, Hari Yang Aneh, Julia Perez, dsb.) menjadikan hidup kita seolah-olah selalu dikejar-kejar oleh kekurangan terus-menerus. Kita merasa kekurangan, bukan karena kita membutuhkan komoditas, tetapi memang kita dibentuk dan dipaksakan untuk terus memproduksi rasa kekurangan dalam hidup! Karena itu, untuk mencegah hidup menjadi serba riuh-rendah, penuh keributan tanpa esensi, menuliskan pengalaman sehari-hari, cerita-cerita lucu, aneh, ataupun yang memalukan sekalipun adalah usaha untuk menjadikan hidup kita lebih bermakna. Kita hidup hanya sekali, dan kecintaan kepada daya hidup dapat ditumbuhkan melalui pencintaan kepada proses, yang akhirnya membuat hidup kita akan lebih bermakna. Blog ini adalah salah satu contoh untuk mencintai daya hidup.

Selamat-selamat... HAdiahnya bisa di nego secepatnya.... Nanti saya hubungi....

Komentar