A Message From Me to Myself (Reflextion Likely)


Lagi pusing mikirin level 56 di matibeku... Eh,, pikiran tambah sesak entah kenapa... sangat tiba-tiba aja... Ada sesuatu yang hilang... serasa temen2ku aja nggak cukup untuk dilampiaskan.. Sebenernya curhat ke benda mati kayak gini juga nggak banyak ngefek ya sometimes... 
Entah darimana harus memulai, gw nggak bisa mengkonstelasikan apa yang ada dalam keadaan fakta dengan apa yang masih abstrak berupa-rupa keinginan untuk menggapai sebuah asa, tapi apa daya, tangan ini serasa tak sanggup mendekap mimpi-mimpi itu, jiwa ini seakan sedang tidak berdaya dan terjerembab di tepi jurang kelumpuhan cita-cita.. Niat gw berharap akan sesuatu pun berubah menjelma menjadi setitik noda jelaga yang tiba-tiba menghamtam dan memporak-porandakan niat dan keinginan gw... Apalah yang bisa kupikirkan saat ini... Musykil en mustahil.. 
Memandang cakrawala ke haribaan Sang Pencipta adalah sebuah cara yang metafora untuk lebih mendekatkan diri secara vertikal kepadaNya. Tapi, gw nggak mau segala sesuatuya harus terus-menerus dilimpahkan ke sang takdir.. ke sang nadir.. Seperti mereduksi kemampuan usaha dan ikhtiar yang gw lakukan... 
Intinya, memang, nggak selamanya mimpi itu berbanding lurus dengan kemampuan, karena kemampuan itu pasti juga akan terbentur takdir.. Tapi, gw bukan tipe manusia yang pasrah akan takdir, karena segala taksir pasti akan terbelenggu di atas usaha yang simultan...
PS : jangan pernah menyerah untuk mewujudkan mimpi.. (pesan untuk gw sendiri)

Komentar