Mengenang Hastoro Dwinantoaji

Hastoro Dwinantoaji
1989 - 2021

Baru beberapa hari yang lalu ada update tentang pencapaian dan publikasinya di Facebook, kemarin sore banget (3 Maret 2021), tiba-tiba aku dapet kabar tentang berpulangnya temanku yang membagikan updatenya itu. Rasanya seperti tidak percaya, tapi aku menampar-nampar kesadaranku untuk percaya bahwa, memang temanku itu telah pergi—pergi meninggalkanku, meninggalkan kita semua dengan tempo di Marcia, dan dari jauh kudengar sayup-sayup lagu kebanggaannya dimainkan bergema di telingaku, Für Elise. 

Hastoro Dwinantoaji lengkapnya Hastoro Dwinantoaji, S.Kep., Ns., Ph.D namanya. Sosok teman SMPku di SMP Negeri 5 Yogyakarta epoh 2001-2004. Memang sudah lama betul kita terakhir bertemu dan hanya tiga tahun kita menghabiskan waktu bersama. Namun, lebih dari apapun, semua orang mengenalmu sebagai orang baik. Aku pun demikian. Tidak ada satupun masalah yang pernah terjadi di antara kita. Kalau aku mengklaim diri sebagai orang paling dekat dengannya, ya mungkin saja banyak yang protes karena Hasto orangnya mudah sekali bergaul dengan siapa saja. Tapi setidaknya izinkanlah aku menceritakan banyak pengalaman-pengalamanku dengannya.

Hasto dikenal awalnya orangnya lucu, grapyak, namun sedikit mendapatkan perundungan karena mungkin pilihan teman bermainnya. Mungkin karena itu aku mencoba mendekatinya dan ternyata cocok. Biasalah, jaman sekolah pasti penuh dengan yang namanya toxic masculinity. Cowok harus bisa ini itu, harus bisa main bola, harus bisa bla bla bla.. Mungkin ini yang membuat aku en Hasto cocok karena kadang even pada waktu itu aku sudah berpikir bahwa kita punya nature tertentu yang nggak bisa dipaksakan, selain juga hobi makan di kantin sekolah yang sama. Awalnya makan di depan kelas, lama-kelamaan makan di kantin Pak Sugeng yang deket sama kelas 1F zaman dulu. 

Keinget sih jaman tonti, jaman sepeda hias itu (walaupun jaman itu aku blum bisa naik sepeda, lupa sih gimana rasanya), jaman makin ke sini jadi ikutan ekskul musik (tapi aku lali sih). Yang pasti kelas satu kita belum sedekat itu. Tapi setidaknya kalau pulang sore mulai mendekati akhir kelas satu makin sering. Kadang sama Shinta juga main apa gitu.. jajan apa.. ngobrolin apa gak jelas..

Hasto (empat dari kiri atas)

Kelas dua akhirnya terjadi, awalnya sih takut kelas bakal dirombak (diacak), tapi ternyata cuman pindah bangunan kelas aja. Aku yang semula 1B jadi 2B. Oh ya, dulu belum pakai istilah kelas VII, VIII gitu ya. Kelas 2B ini letaknya ada di bagian utara bangunan sekolah yang luas banget itu. Jadilah jauh kalau mau ke mana-mana. Jadilah kelas dua ini aku sama Hasto lebih sering makan di depan Telkom (dulu ada banyak warung di depan Telkom). Maem soto langganan Bu Kribo (sekarang pindah ke belakang tapi Bu Kribonya udah gak pernah ada). Karena nyari tempat solat yang adem, masjid Telkom jadi tempat favorit untuk solat juga selain Jumatan. Kelas dua ini udah yang bener-bener heboh banget pertemananku dan Hasto. Aku beberapa kali ke rumahnya entah untuk tujuan apa sampe aku aja lupa gimana aku pulangnya jaman semono. Paling keinget ya sesi sore-sore gitu. Memang nggak setiap hari, tapi biasanya yo ketemu ae. Kadang ke gramed juga embuh nyari apa atau sekedar main. Di kelas dua juga ada Nafi. Biasanya kita saling ejek-ejekan tentang kebiasaan-kebiasaan kita. Tapi bahkan kita nggak pernah ngejek orangtua kita (tau sendiri lah jaman itu semua orang dipanggil dengan nama orangtua). 

Keinget sih pas main ke rumah Hasto jaman semono (circa 2002-2003 itu suasana rumah Hasto kayak gimana. Belakang rumahnya masih kebun dulu. Gimana asyiknya si Hasto berantem mulu sama ibunya dengan hal yang lucu khas mereka. Apalagi dulu si Hasto masih suka niruin suara bebek. Entah dapet ide darimana, tapi lucu banget kalau dengernya. Udah gitu makan burjo di deket rumahnya yang aku yakin udah berubah deh sekarang. 

Rumah Hasto

Jaman ikut ekskul musik itu beneran membuka mataku banget deh. Yang lain mungkin pada ikutan ekskul KIR lah, tonti lah, basket lah, aku pikir udah mainstream. Nah, musik ini tidak mainstream. Walau aku sama Hasto lebih banyak main recorder aja. Tapi Hasto bisa main Piano dengan baik. Bahkan, kalau aku lihat tuh aku kayak awesome banget, njuk abis itu tak ejek soalnya abis itu pasti dia keringeten parah. Hahaha.. Dari Hasto aku tahu karya-karya musik yang lumayan terkenal di dunia ini. Sampai nanti kehadiran kita bikin asyik ekskul musik itu sendiri. Bu Nurul en Pak Anton juga jadi kayak keluarga sendiri. Kita sibuk main Yesterday, lagu-lagu jaman jadul, Moon River, sampai akhirnya kita ikutan lomba musik ensemble tingkat kota Yogyakarta. Tapi aku lupa sih, kayaknya kalah. Tapi nggak nyangka aja nanti cuman dengan modal recorder aja aku sama Hasto sampai dibawa ke SMM (itu lho sekolah khusus musik di Kasihan, Bantul). Ikutan latihan untuk aubade (prosesi penurunan bendera 17 Agustus) di Istana Negara Yogyakarta. Untungnya Hasto bisa baca partitur, soalnya sama panitia waktu itu langsung dikasih partitur setebel gilak dengan tangga nada yang ngawu-awu (birama pertama langsung masuk tangga nada 4# trus dimodulasi berulang-ulang). Aku yang anak kemaren banget dalam bidang musik, jadi tambah pengetahuan sih. 

Pengalaman lain yang sebenernya agak geje adalah pengalamanku, Hasto, en Nafi pergi ke Solo pake kereta Prameks. Terus sampai sana, nggak ngapa-ngapain, cuman tengak-tenguk di jalanan sambil nungguin kereta pulang ke Jogja. Yungalah. Terandom banget yakan. Soalnya Hasto ini orangnya cinta banget sama perkeretaapian di tanah Jawa ini khususnya. Katanya dia pernah jalan-jalan sendirian keliling Jawa pakai kereta api cuman untuk menghafalkan nama stasiun dari ujung ke ujung. Haha.. Unik kan? Karena itu juga aku jadi suka tentang kereta—setidaknya nanti setelah kuliah. 

Di kelas tiga, entah kenapa aku sama Hasto dipilih jadi ketua kelas dan wakil ketua kelas. Walau Hasto nggak pernah menjalankan kerjanya sih. Cuman melu ae. Tapi.. ya sama aja kalau aku merasa, kita dipilih ya cuman karena figure. Hahaha.. Kemampuan memimpin kita ya begitulah, tidak tegas dan penuh pekewuhan. Hal ini nantinya terulang lagi aku jadi ketua kelas di kelas 3 SMA. Podo ae. 

Entah kenapa kelas tiga mungkin karena makin padat jadwal kita. Trus banyak les-lesan juga. Nggak tahu aku Hasto les di mana—nggak inget. Aku juga harus les Neutron juga bareng Canggih, Sungsang, gitu-gitu. Masing-masing punya cara untuk lulus dengan sebaik-baiknya. Apalagi sekolah di SMP 5, setiap hari adalah medan pertempuran bagi kita untuk bersaing. Inget deh, ada kelas Gala. Jadi setiap jam pelajaran ke-9 dan 10, kita ganti kelas sesuai dengan urutan ranking kita. Di sinilah kita jadi banyak kenalan. Selain memang karena kita banyak gaul juga sih. 

Kenangan lain bersama Hasto adalah ujian akhir di kelas 3. Waktu itu aku bingung mau ujian praktek musik pilih apa atau main instrumen lagu apa. Terus sama dia, aku dikasih partitur, disuruh latihan. Terus dia jadi pengiring pianoku. Jadi aku main recorder en Hasto main piano, judul lagunya Malioboro by Doel Sumbang (fun fact: aku baru tahu judulnya sekarang pas ngetik ini—aku cuman hapal melodinya tok, blum pernah denget lagu aslinya, amazing sekali). Dan, hasilnya, mantap… Cuman aku nggak bisa bantu dia karena dia memilih untuk solo piano. 

Kenangan lain ya pasti adalah gimana semua orang tahu kita orangnya suka gegibahan. Apalagi di sore hari. Hahaha.. Semoga semua yang kita gibahin bisa memaafkan kekhilafan kita, aku, dan Hasto terutama. Mungkin dia melakukan itu untuk jokes semata, plus menciptakan nama-nama dan istilah baru nggak cuman buat guru, juga buat temen-temen dan hal-hal yang aku lakukan juga. Yah, itu sih khilafnya aku dan Hasto. Semoga dimaafkan. 

Kenangan paling terakhir adalah sewaktu aku udah kuliah, tepatnya antara semester dua atau tiga gitu. Tiba-tiba out of nowhere aku dihubungi Hasto. Tanpa pikir panjang ya aku dateng ke tempat yang dijanjikan. Eh, ternyata itu adalah seminar Tians*i. Semacam produk herbal dengan konsep semacam MLM gitu. Mereka pakai sistem bintang. Aku gak tahu gimana modelnya, atau mungkin karena pekewuh itu tadi, jadilah aku juga Bintang 3, dengan menggunakan dana beasiswa yang ada di rekeningku waktu itu. Pikirku, ah mungkin nanti bakal balik modal. Tapi ternyata jauh panggang dari api. Baru pertemuan kedua, aku sama Hasto udah merasa nggak nyaman. Jadilah malam itu aku nginep di rumah Hasto (seingetku). Terus kita membahas gimana caranya biar udahan aja jadi member Tians*i-nya. Itu berarti kita merelakan uang yang udah kita bayarkan. Yah, terlihat begok, tapi ya itulah cerita terakhir sebelum akhirnya dia lulus.

Kemudian dia pergi ke Jepang, dan S2, kemudian S3.

Dilansir langsung dari cerita Ibundanya, banyak cerita-cerita perjuangan Hasto dari yang bukan siapa-siapa, akhirnya sukses di mana-mana. Ini mengajarkan kepada kita arti pentingnya bermimpi dan berusaha. 

***

Kemudian, kembali ke paragraf pertama bak kamar satu kamar dua, DC Al Fine Al Coda. Tak terprediksi, tak terduga, sang maestro piano yang kutahu plus ners terhebat juga yang kutahu dipanggil Tuhan begitu cepat. Padahal beberapa hari yang lalu sempat terlintas di benakku, bahwa aku pengen sekali mampir ke rumah Hasto kalau dia di Jogja. Pengen bercerita-cerita tentang apa-apa yang sudah dia lakukan. 

Semua aku ingat
Dan tak akan kulupa
Kenangan paling indah
Dan paling... paling asyik

—Malioboro, oleh Doel Sumbang.

Pusara terakhirmu, semoga damai Has...

Dan, kemaren tanggal 27 Februari tepat ulang tahun sahabatku ini. Nggak banyak orang yang aku hafalkan ulang tahunnya, kalau nggak terlalu berkesan dalam hidupku. Bersamaan dengan itu, kamu pergi duluan Has…

Biarlah Sang Jiwa temenku yang paling dekat semasa SMP ini dituntun cahaya untuk kembali kepadaNya dengan damai. So be it.


Keterangan:

https://scholar.google.co.id/citations?user=0NtK0EUAAAAJ&hl=en




Komentar